Sunday, March 16, 2014

Transformasi dan Business Process Reengineering (BPR): Pelajaran Dari Sektor Publik Inggris dan Belanda

Difasilitasi oleh E-Government, lembaga publik mencari perubahan transformasi dengan membuat peningkatan radikal. Pada pandangan pertama, perkembangan ini sama dengan proses Business Process Reengineering (BPR) di sektor swasta, sementara sudah banyak akademisi dan praktisi yang membuat. Hal ini telah meninggalkan kekosongan dalam memahami kompleksitas tantangan yang dihadapi e-Government dan hasil dari perubahan dalam badan publik.

           Penelitian ini menunjukkan bahwa mencapai tahap transformasional (atau T-Government ) dipandang sebagai tahap berikutnya dalam E-Governemnt baik pada pemerintahan Inggris dan Belanda. Titik awal dari penelitian ini adalah bahwa T-Government  perlu perubahan lebih radikal dan bisa belajar dari BPR. Kajian pustaka menunjukkan bahwa BPR dapat dicirikan oleh perubahan radikal, mengambil perspektif proses, menguraikan struktur baru, fokus pada pelanggan, mengejar atau mempertahankan praktik terbaik, pendekatan top-down memerlukan dukungan pimpinan puncak, mengubah budaya dan fokus pada kompetensi inti.

Efek dan Strategi Penelitian Keamanan E-Commerce oleh Penggunaan P2P

      Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi P2P (peer  to peer ) telah menjadi fokus utama penelitian dan mendapatkan popularitas untuk menunduh  konten berukuran besar seperti sumber daya multimedia. Aplikasi P2P kemudian memiliki masalah kritis karena mereka mengkonsumsi terlalu banyak bandwidth jaringan, sehingga menyebabkan kesulitan untuk aplikasi lain seperti email, berita, search engine serta E-commerce (Electronic Commerce). Dengan demikian, bagaimana memfasilitasi efek samping dari aplikasi P2P akan menjadi salah satu topik penelitian yang paling penting untuk jaringan dan manajer E-commerce.
Dalam penggunaan P2P untuk E-Commerce, perlu adanya pengaturan lalu lintas data dengan menggunakan berbagai skema sehingga dapat menunjang kelancaran E-Commerce dengan menggunakan pendekatan pengaturan alokasi data kepada peer dalam P2P.

Model Knowledge Management Terpadu Untuk UKM

        Adopsi Knowledge Management (KM) telah menjadi umum dalam mengembangkan strategi bisnis. Namun, karena keterbatasan sumber daya dan kendala anggaran, usaha banyak kecil dan menengah (UKM) gagal untuk menyadari dan mengenali potensi manfaat dari KM sehingga mereka enggan untuk berpartisipasi dalam kemajuan dan transformasi manajemen pengetahuan. Selain itu, UKM biasanya menghadapi ambiguitas dan ketidakpastian dalam mengadopsi dan menerapkan KM.
Untuk mengembangkan KM, organisasi perlu untuk membangun jalur komunikasi untuk memfasilitasi berbagi pengetahuan dengan entitas eksternal seperti mitra bisnis dan instansi pemerintah. Disarankan bahwa kebijakan organisasi KM harus konsisten dengan kegiatan di tingkat operasional. Dukungan yang tepat dan program pelatihan untuk karyawan juga harus di tempat ketika KM diadopsi dan diimplementasikan di UKM. Dalam hal kemampuan karyawan dalam KM , sekali lagi, program pelatihan yang tepat dan penting diperlukan untuk memastikan karyawan memahami dan menerapkan jalur untuk menerima pengetahuan organisasi. Selain itu, prosedur yang sistematis dan rinci tentang pengamanan pengetahuan organisasi perlu berada di posisi di tingkat operasional.

Model ERP Untuk Pemilihan Supplier Di Industri Elektronik

ASUS Tech adalah salah satu perusahaan manufaktur motherboard terkemuka di Taiwan yang telah memiliki jaringan ratusan perusahaan sebagai supplier. Karena begitu pentingnya supplier-supplier tersebut, pemilihan supplier merupakan proses vital yang dijalankan oleh departemen purchasing karena dapat menghemat biaya secara signifikan dan juga waktu pekerja. Di dalam konsep pull dan push, sistem ERP bertindak sebagai alat efisiensi untuk sumber daya yang terintegrasi dan sebagai pendongkrak profit bagi sebuah perusahaan karena dengan ERP berarti kelemahan dan kekuatan dari sebuah operasi purchasing dapat diketahui oleh manager.

            Melalui sistem ERP, dapat dilakukan pemilihan supplier dengan berbagai metode seperti ANP dan TOPSIS sehingga dapat memberikan efisiensi dalam biaya serta waktu operasional, khususnya pada divisi purchasing.